Hal yang paling sering saya lakukan adalah membuat penilaian tentang sesuatu. Saya ogah membaca novel “Laskar Pelangi” karena alasan penilaian pribadi. Demikian tak sukanya sampai saya cenderung menjelek-jelekkan. Fitnah, barangkali kalau mau dikatakan dengan kasar. Saya berdalih tulisan Andrea Hirata terlalu menggurui dengan membuat banyak deskripsi, lalu saya sambung bahwa saya mau membaca novel bukan diktat kuliah. Berlanjut, saya bilang Andrea Hirata bukanlah seorang sastrawan, bagaimana mau dikata kalau yang ia tulis hanyalah diari yang dituangkan dalam sebuah tulisan deskriptif. Buku itu hanya cerita yang bisa ditemui siapa saja di negeri ini. Kalau buku itu menggugah, tak ada beda dengan motivator ulung yang saya katai sok tahu. Kalau buku itu best seller, itu karena sang penulis berulang kali diundang acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi berita. Yang tidak saya sebutkan bahwa tidak semua orang mau juga mampu menuangkan pengalamannya dalam bentuk tulisan.
Menyangkal apa yang kita ketahui akhirnya akan memangsa kita sendiri mentah-mentah sampai habis.