Hari ini ada kesempatan untuk pergi ke tempat sinyal telepon seluler berlimpah. Tapi, sesampai di sini aku tak tahu apa gunanya membawa telepon seluler. Teman-teman yang sepuluh menit tadi saling mengoceh dan berhimpitan denganku, kini sibuk mengoceh sendiri-sendiri dengan telepon yang digenggam lekat dekat telinga. Aku menganggur, dan itu mengganggu
Tampilkan postingan dengan label sok puitis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sok puitis. Tampilkan semua postingan
14 Januari 2012
31 Oktober 2011
Puisi Lama
Lama sekali saya tidak menulis puisi, terakhir mungkin tahun lalu. Tepat saat jumat pertama setelah lebaran haji.Itu pun saya anggap gagal.
Beberapa waktu lalu saya tengok lagi folder tempat saya menulis puisi. kebanyakan ditulis saat saya sedang berpacaran dengan si Naphentes.Dan, ada sebuah puisi yang saya rasa cukup enak dibaca.Seingat saya, puisi ini saya tulis saat saya dibuat bimbang oleh si Naphentes.Silahkan menikmati.
Tiup
3 maret 2009
Tiuplah dengan lembut
Seperti yang biasa kau lakukan saat melihatku berkeringat dan terbaring kelelahan
Tiuplah dengan keras
Seperti angin yang berhembus dari segala penjuru dan berkumpul sehingga atap rumah terbang entah kemana
Tiupkanlah sesak hatimu
Ke dalam tangisan yang tak pernah aku tahu sebabnya
Tiupkanlah gejolak dalam dirimu
Ke juntai rambutku yang ikal jatuh di wajahmu
Selalu kurasakan semilir angin yang kau tiupkan ke dahiku
Kemarahanmu atas segala kesalahanku padamu.
Sesak hatimu yang menjadi sesak hatiku atas keluguanku yang tak pernah mengerti dirimu.
Selalu kurasakan kelembutan itu
Seperti angin yang menerbangkan atap rumah itu
Yang begitu kuat
Seperti itulah dulu
Kini aku berusaha mencerai beraikannya menjadi tiupan-tiupan kecil
Karena aku tak sanggup merubah arahnya
Setidaknya sampai saat ini
Saat baling-baling kecil masih berputar
Terus berputar.
16 Mei 2011
Si Kaktus (lagi)
Saya baru sadar bahwa saya terlalu banyak mengumbar soal si kaktus. Si kaktus muncul di hampir 1/4 isi blog saya, dalam berbagai sisi dan alter egonya tentu saja. Saya benar-benar sadar, bahwa saya terlalu mengumbar kegetiran saya soal si kaktus di dunia nyata saat teman saya menelepon. Teman saya itu menelepon untuk memberi saya selamat karena saya sudah "didadar".
Laiknya teman yang terpisah 2 zona waktu, berbagai nama selat dan 2 nama laut, kami berbicara tentang banyak hal. Saling mengejek layaknya bocah, sindir sana-sini seperti pembaca berita, dan akhirnya mengomentari saya sebagai objek layaknya sebuah fenomena. Mulanya si teman menggoda dandanan rapi saya saat "didadar"yang mereka lihat di jejaring sosial. Kemudian berlanjut dengan ledekan soal teman saya satu lagi yang menyesal tak melihat saya berpakaian rapi saat dia masih berkuliah dengan saya 2 tahun lalu, sehingga tak pernah bisa jatuh hati. Intinya, ledekan yang lumayan umum bagi siswa-siswi SMP. Selanjutnya pertanyaan soal status hubungan saya yang tercantum di jejaring sosial tersebut.
Di sinilah ujung-pangkal kesadaran saya soal si kaktus. Si teman bertanya pada saya mengenai kebenaran status hubungan tersebut, jawabannya setengah benar. Saya bilang, tentu saja saya tidak lagi berselibat walau status tersebut bisa jadi cara saya membuat kebohongan publik. Teman saya langsung menimpali dengan menyebut nama spesies si kaktus. Entah teman saya tahu nama genus si katus atau tidak, yang jelas nama si kaktus binomial seperti nama botani. Saya langsung sadar bahwa dulu saya banyak mulut membicarakan si kaktus.
Dulu saya sering bercerita soal si kaktus dengan teman saya. Mari kita sebut si teman dengan si tenggoret, saya si cacing, dan saya akan bercerita dengan kiasan fabel.
27 Januari 2009
Ajakan Bicara Empat Mata
(tujuh belas hari setelah aku genap sembilan belas tahun)
Saat aku pulang kampung kemarin
Kita sempat bertemu,bukan?
kamu memakai kerudung sekarang
menurutku kamu lebih menarik dua tahun lalu
mungkin karena aku sudah lupa masa lalu
tapi aku tetap saja tak bisa banyak bicara
kamu tahu kan kalau di depan teman-teman,aku nggak seperti itu
seperti baru kenal saja!
Sebetulnya kita belum sempat kenalan
Aku sok saja minta kamu bicara empat mata
Padahal sebelumnya aku nggak pernah bicara sama kamu
Entah apa yang ada dibenakmu waktu itu
Aku tebak kamu pasti berpikiran sama seperti temanmu yang lain
Yang sama-sama ku minta bicara empat mata
Kemudian kamu bikin janji buat keesokan harinya
Aku sudah berkuping merah
Keesokan harinya kamu bergaya seperti tak terjadi apa-apa
Padahal aku sudah merasa ada meteor besar mau runtuh
Aku terpaksa menagih janjimu
Kamu mencoba mengelak
Aku langsung bicara saja
Sok percaya diri
Aku bilang kalau aku punya perasaan lain sama kamu
Kamu sih biasa saja
Lalu kamu balik tanya “sudah? Begitu saja? ”
Aku!?
Jangan tanya! rasanya seperti tertimpa kereta api
aku langsung pamit pulang
aku sudah menyangka jawabanmu akan seperti itu
mirip teman-temanmu yang kuajak bicara empat mata
kamu pulang kemarin dalam rangka apa?
Kamu kan sibuk
Baru sadar aku sekarang
Kamu pulang buat bertemu seseorang
Ya! Ya! ya!
Kalau begitu aku permisi
Kamu pesan padaku
Jangan sampai aku bilang kalau bertemu
Baiklah, toh aku nggak mau kehilangan teman
------------****-----------
Aku merasa kamu lebih menarik dahulu
Aku tahu karena kita nggak pernah bertegur sapa
Dan aku kemudian mengajak teman dari temanmu bicara empat mata
Jawabannya mirip
Bedanya waktu aku pulang kampung aku nggak sempat bertemu dia
Aku bertemu temanmu yang lain
Sebelum teman dari temanmu
Aku mengajak bicara empat mata teman dari sepupumu
Jawabannya beda jauh
Dia punya perasaan yang lain juga
Tapi ternyata lain lagi perasaannya sama seseorang
Aku mengalah daripada kalah
Sampai sekarang aku nggak pernah lagi mengajak seseorang bicara empat mata
Nggak tahu kenapa
Padahal aku nyaris saja mengobral ajakan bicara empat mata
Aku lebih memilih kenalan dulu sebelumnya
Saat aku pulang kampung kemarin
Kita sempat bertemu,bukan?
kamu memakai kerudung sekarang
menurutku kamu lebih menarik dua tahun lalu
mungkin karena aku sudah lupa masa lalu
tapi aku tetap saja tak bisa banyak bicara
kamu tahu kan kalau di depan teman-teman,aku nggak seperti itu
seperti baru kenal saja!
Sebetulnya kita belum sempat kenalan
Aku sok saja minta kamu bicara empat mata
Padahal sebelumnya aku nggak pernah bicara sama kamu
Entah apa yang ada dibenakmu waktu itu
Aku tebak kamu pasti berpikiran sama seperti temanmu yang lain
Yang sama-sama ku minta bicara empat mata
Kemudian kamu bikin janji buat keesokan harinya
Aku sudah berkuping merah
Keesokan harinya kamu bergaya seperti tak terjadi apa-apa
Padahal aku sudah merasa ada meteor besar mau runtuh
Aku terpaksa menagih janjimu
Kamu mencoba mengelak
Aku langsung bicara saja
Sok percaya diri
Aku bilang kalau aku punya perasaan lain sama kamu
Kamu sih biasa saja
Lalu kamu balik tanya “sudah? Begitu saja? ”
Aku!?
Jangan tanya! rasanya seperti tertimpa kereta api
aku langsung pamit pulang
aku sudah menyangka jawabanmu akan seperti itu
mirip teman-temanmu yang kuajak bicara empat mata
kamu pulang kemarin dalam rangka apa?
Kamu kan sibuk
Baru sadar aku sekarang
Kamu pulang buat bertemu seseorang
Ya! Ya! ya!
Kalau begitu aku permisi
Kamu pesan padaku
Jangan sampai aku bilang kalau bertemu
Baiklah, toh aku nggak mau kehilangan teman
------------****-----------
Aku merasa kamu lebih menarik dahulu
Aku tahu karena kita nggak pernah bertegur sapa
Dan aku kemudian mengajak teman dari temanmu bicara empat mata
Jawabannya mirip
Bedanya waktu aku pulang kampung aku nggak sempat bertemu dia
Aku bertemu temanmu yang lain
Sebelum teman dari temanmu
Aku mengajak bicara empat mata teman dari sepupumu
Jawabannya beda jauh
Dia punya perasaan yang lain juga
Tapi ternyata lain lagi perasaannya sama seseorang
Aku mengalah daripada kalah
Sampai sekarang aku nggak pernah lagi mengajak seseorang bicara empat mata
Nggak tahu kenapa
Padahal aku nyaris saja mengobral ajakan bicara empat mata
Aku lebih memilih kenalan dulu sebelumnya
30 November 2008
taman sari
Tamansari
Malam tiga hari sebelum tahun dua ribu tuju
Dindingnya sangat tebal untuk runtuh ke kolam
Yang airnya beriak dari kepala naga
Sepi sekali ketika itu
Kecuali dulu ketika para putri bercanda di sana
Semuanya tertawa dan raksasa hanya bisa melotot dari gerbangnya
Tak ada yang mandi
Dan seorang memandang dari depan menunggu terjadi
Sesuatu entah apa
Ukiran dan air yang segar sudah tertuang ada
Tak perlu tembok yang besar untuk gerbang yang terbuka
Tak berpintu kayu berat berderit
Tak perlu penjaga mengawalnya
Tak ada parit
Seperti benteng yang lorongnya bergema
Tetap saja gadisnya teringat sakit
Burung dalam sangkar yang dijual di pasar
Dan kereta kuda melewati gajah dalam rantai
Beradu nasib pada pohon besar
Yang akarnya terus terjuntai
Tak ada kembang api
Namun tetap ada suara tawa
Menunggu tangis dalam sepi
Berharap selalu tertawa
Ingat sinyo belanda
Dansa-dansi di kamar bola
Indah sekali kecuali serdadu
Di mulut meriam tertutup peluru
Tamansari tetap terbuka
Dan si gadis masih menunggu terjadi
Bukan kembang api dan dansa-dansi
Lebih dari dan bukan janji gianti
Malam tiga hari sebelum tahun dua ribu tuju
Dindingnya sangat tebal untuk runtuh ke kolam
Yang airnya beriak dari kepala naga
Sepi sekali ketika itu
Kecuali dulu ketika para putri bercanda di sana
Semuanya tertawa dan raksasa hanya bisa melotot dari gerbangnya
Tak ada yang mandi
Dan seorang memandang dari depan menunggu terjadi
Sesuatu entah apa
Ukiran dan air yang segar sudah tertuang ada
Tak perlu tembok yang besar untuk gerbang yang terbuka
Tak berpintu kayu berat berderit
Tak perlu penjaga mengawalnya
Tak ada parit
Seperti benteng yang lorongnya bergema
Tetap saja gadisnya teringat sakit
Burung dalam sangkar yang dijual di pasar
Dan kereta kuda melewati gajah dalam rantai
Beradu nasib pada pohon besar
Yang akarnya terus terjuntai
Tak ada kembang api
Namun tetap ada suara tawa
Menunggu tangis dalam sepi
Berharap selalu tertawa
Ingat sinyo belanda
Dansa-dansi di kamar bola
Indah sekali kecuali serdadu
Di mulut meriam tertutup peluru
Tamansari tetap terbuka
Dan si gadis masih menunggu terjadi
Bukan kembang api dan dansa-dansi
Lebih dari dan bukan janji gianti
26 November 2008
LADY WITH G STRINGS
Lady with G string
23 puasa 1427
Wanitamu memegang gitarku
Jemarinya yang kasar memetik lembut
Kasarnya tak menutupi kelentikan gemulai
Tarian indah dari telunjuknya yang manis
Cincinmu melingkar di antara kelingking dan jari tengahnya
Berkilat padaku tajam
Setelah kudengar Intro tak kudengar dia bersenandung
Kemudian memasukkan cincin kedalam sakunya
Lalu bernyanyi
Sudah kutunggu tanpa kuminta
Jarinya kini terhias cincin lagi
Setelah ia usap bersihkan dari debu dan cium
Masih berkilat tajam
Kupinjam cincin itu
Ia membenarkan letak duduknya
Bermain lagi
Entah sendu atau ria lagunya?
Tiap nada memberikan kemerduan dan kesumbangan tersirat dari wajahku
Senar gitarku mendenting
Berdengung dalam tabungnya
Jarinya anggun saja
Tetap memetik dawai
Merah kupingku
Ingin mengambil kembali gitarku
Terlanjur kupinjamkan tanpa ia tahu, tak ia kembalikan
Dawai gitar masih berdenting walau berkarat
23 puasa 1427
Wanitamu memegang gitarku
Jemarinya yang kasar memetik lembut
Kasarnya tak menutupi kelentikan gemulai
Tarian indah dari telunjuknya yang manis
Cincinmu melingkar di antara kelingking dan jari tengahnya
Berkilat padaku tajam
Setelah kudengar Intro tak kudengar dia bersenandung
Kemudian memasukkan cincin kedalam sakunya
Lalu bernyanyi
Sudah kutunggu tanpa kuminta
Jarinya kini terhias cincin lagi
Setelah ia usap bersihkan dari debu dan cium
Masih berkilat tajam
Kupinjam cincin itu
Ia membenarkan letak duduknya
Bermain lagi
Entah sendu atau ria lagunya?
Tiap nada memberikan kemerduan dan kesumbangan tersirat dari wajahku
Senar gitarku mendenting
Berdengung dalam tabungnya
Jarinya anggun saja
Tetap memetik dawai
Merah kupingku
Ingin mengambil kembali gitarku
Terlanjur kupinjamkan tanpa ia tahu, tak ia kembalikan
Dawai gitar masih berdenting walau berkarat
Langganan:
Postingan (Atom)
